Senin, 17 Mei 2010

Bagaimana Akhlak Rasullulah?

Ayat al-Quran yang paling sarat memuji Nabi Muhammad Saw adalah ayat yang berbunyi wa innaka la’alâ khuluqin ‘azîm, sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung.

Kata khuluq yang berarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalq yang berarti ciptaan. Be-danya adalah kalau khalq lebih bermakna cip-taan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluq adalah ciptaan Allah yang ber-sifat batiniah. Seorang sahabat pernah me-ngenang Nabi yang mulia dengan kalimat be-rikut kâna Rasûlullâh ahsanan nâsi khalqan wa khuluqan, bahwa Rasulullah Saw adalah ma-nusia yang terbaik secara khalq dan khuluq. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw ada-lah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun batiniahnya.

Kesempurnaan lahirah beliau sering kita dengar dari riwayat-riwayat para sahabat yang melaporkan tentang sifat-sifat beliau. Hindun bin Abi Halah misalnya mendes-kripsikan sifat-sifat lahiriah Nabi seperti berikut:

"Nabi Muhammad Saw adalah se-orang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama di saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang. Postur tubuhnya tegap. Rambutnya ikal dan panjang yang tidak melebihi daun telinganya. Warna kulitnya terang. Dahinya luas. Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan tampak timbul di saat marahnya. Hidungnya mancung sedikit membengkok, yang di bagian atasnya berkilau cahaya. Jang-gutnya lebat. Pipinya halus. Matanya hitam. Mulutnya sedang. Giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan. Leher-nya putih, bersih dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya.

Bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, selu-ruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit yang kebanyakannya merenung. Beliau mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam."

Deskripsi para sahabat Nabi tentang sifat-sifat manusia yang agung seperti ini akan banyak Anda temukan di dalam kitab-kitab semacam Maulid yang lazim dibaca di tanah air kita, seperti Barzanji, Diba, Simthu ad-Durar dan sebagainya. Kita dibawa hanyut oleh para perawi tentang bentuk lahiriah Nabi, sesuatu yang meskipun indah dan sempurna, namun tidak menjadi fokus pandangan al-Quran terhadapnya.

Lalu, apa yang menjadi fokus panda-ngan al-Quran terhadap Nabi Saw? Jawabnya adalah khuluq-nya alias akhlaknya, seperti yang kita kutipkan ayatnya di atas. Apa arti akhlak? Kata Ghazâlî, akhlak adalah wajah batiniah manusia. Ia bisa indah dan bisa juga buruk. Akhlak yang indah disebut al-khuluq al-hasan; sementara akhlak buruk disebut al-khuluq as-sayyi’. Akhlak yang baik adalah akh-lak yang mampu meletakkan secara proporsi-onal fakultas-fakultas yang ada di dalam jiwa manusia. Ia mampu meletakkan dan menggu-nakan secara adil fakultas-fakultas yang ada di dalam dirinya: ‘aqliyyah, ghadhabiyyah, syah-waniyyah dan wahmiyyah. Manusia yang ber-akhlak baik adalah orang yang tidak berlaku ifrât alias eksesif dalam menggunakan empat fakultas di atas, dan juga tidak bersifat tafrît alias mengabaikannya secara total. Ia akan sangat adil dan proporsional di dalam meng-gunakan keempat anugerah Ilahi di atas.

Dengan kata lain akhlak yang baik adalah suatu keseimbangan yang sangat adil yang dilakukan oleh seseorang ketika berha-dapan dengan empat fakultasnya di atas. Ia tidak ifrât di dalam menggunakan rasional-itasnya sehingga mengabaikan wahyu, dan ju-ga tidak tafrît sehingga menjadi bodoh. Ia ti-dak ifrât di dalam menggunakan ghadhab atau emosinya sehingga menjadi agresor, namun tidak juga tafrît sehingga menjadi pengecut. Ia tidak ifrât di dalam syahwatnya sehingga menghambur-hamburkan nafsunya, namun juga tidak tafrît seperti biarawan/ti. Ia mampu meletakkannya secara proporsional sehingga ia membagi secara adil mana hak dunianya dan mana hak akheratnya. Kemampuan itu disebut dengan al-khuluq al-hasan.

Orang yang menyandang sifat ini di kedalaman jiwanya sudah pasti akan meman-tulkan suatu bentuk yang sangat indah secara lahiriah di dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari; yang -seperti kata sebuah riwayat- dari pancaran wajahnya akan me-mantul sebuah energi yang akan mengingat-kan orang kepada Allah Swt.; yang untaian kata-katanya akan menambahkan ilmu kepa-da setiap orang yang mendengarnya; dan akhlak lahiriahnya bisa menyadarkan orang dari kelalainnya. Akhlak seperti inilah yang ditunjukkan Rasulullah Saw kepada umat-nya. Keluhuran akhlak Nabi Saw ini adalah cermin yang bersih dan indah yang membawa kita untuk bisa berkaca dengannya di dalam kehidupan kita sesama manusia da-lam segala lapisannya. Sebab akhlak Nabi adalah cerminan al-Quran yang sesungguh-nya. Bahkan beliau sendiri adalah al-Quran hidup yang hadir di tengah-tengah ummat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan al-Quran. Itulah kenapa ‘Aisyah sampai berkata bahwa akhlak Nabi adalah al-Quran.

Hubungan ‘Alî dan Rasulullah Saw

Keluhuran laku Nabi dapat pula di-dengar dari Imam ‘Alî bin Abi Thalib kw, se-pupu dan menantu Nabi, dan orang tidak per-nah kafir seumur hidupnya. Ia pernah berkata berkhutbah tentang hubungannya dengan Nabi:

Ketika masih anak-anak, aku mem-banting dada para lelaki Arab, dan mengalah-kan jagoan-jagoan suku Rabi’ah dan Mudhar. Sungguh kalian mengetahui kedudukanku di sisi Rasulullah Saw. sebagai kerabat yang sangat dekat. Beliau meletakkanku di pangku-annya sementara aku masih kanak-kanak, beliau merangkulku ke dadanya, membaring-kanku di tempat tidurnya, menyentuhkanku ke tubuhnya, sehingga aku mencium aroma-nya. Seringkali beliau mengunyah sesuatu kemudian menyuapkannya untukku. Beliau tidak pernah berbohong dalam ucapannya terhadapku, dan tidak pernah pula salah dalam tindakannya.

Sungguh Allah telah menyertakan malaikat yang paling mulia bersama beliau, sejak beliau disapih, untuk berjalan dengan-nya di atas jalan-jalan kemuliaan dan keluhur-an-keluhuran akhlak, baik siang maupun malam. Sungguh aku sejak dulu mengikuti be-liau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjuk-kan kepadaku panji dari akhlaknya, dan me-merintahkanku untuk mengikutinya. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira’, di mana aku melihatnya dan tak seorang pun selainku melihatnya. Pada saat itu, tidak ada satu rumahpun dalam Islam yang mengumpul-kan manusia kecuali Rasulullah Saw dan Kha-dijah, serta akulah orang ketiga dari mereka.

Seringkali aku melihat cahaya wahyu dan kerasulan, dan mencium napas kenabian. Sungguh aku pernah mendengar rintihan setan di saat wahyu turun kepadanya, lalu aku bertanya, "Ya Rasulullah, rintihan apa ini?" Beliau menjawab, "Itu adalah setan. Dia telah bosan dari ibadahnya. Sesungguhnya engkau mendengar apa yang aku dengar dan melihat apa yang aku lihat, hanya saja engkau bukan seorang nabi, tetapi engkau adalah pengganti nabi, dan sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan".

Sungguh aku bersama beliau di kala pembesar-pembesar Quraisy mendatanginya, lalu mereka berkata, "Ya Muhammad, sesung-guhnya engkau telah mengakui perkara besar yang tidak pernah diakui oleh nenek moyang-mu dan tidak pula dan menunjukkannya ke-pada kami, maka kami yakin bahwa engkau adalah nabi dan rasul; tetapi, apabila engkau tidak memenuhinya, maka kami anggap eng-kau seorang penyihir dan pembohong."

Rasulullah Saw. berkata, "Apa yang kalian minta?" Mereka berkata, "Engkau panggil pohon itu ke mari sehingga ia tercerabut dengan akar-akamya dan berhenti di hadapanmu". Nabi menjawab, "Sesung-guhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apabila Allah melakukannya untuk kalian, apakah kalian akan percaya dan memberi kesaksian atas kebenaran ini?" Mereka ber-kata, "Ya". Maka beliau berkata, "Aku akan tunjukkan kepada kalian apa yang kalian inginkan. Sungguh aku yakin bahwa kalian tidak akan tunduk pada kebajikan, dan ada di antara kalian orang yang akan dilemparkan ke dalam lubang, dan ada juga orang yang akan membentuk kelompok-kelompok [melawan-ku]". Kemudian beliau berkata, "Hai pohon, apabila engkau beriman kepada Allah dan ha-ri akhir, dan meyakini bahwa aku adalah utus-an Allah, maka datanglah dengan akar-akar-mu dan berdirilah di hadapanku atas izin Allah".

Demi yang mengutusnya dengan kebenaran, sungguh pohon itu tercerabut de-ngan akar-akarnya dan datang dengan gemu-ruh suara yang kuat dan kepakan seperti kepa-kan sayap burung, sampai ia berhenti di hada-pan Rasulullah Saw berkepak-kepak, dan membentangkan rantingnya yang paling ting-gi di hadapan Rasulullah Saw dan sebagian ran-tingnya terbentang di pundakku, dan aku ber-ada di sisi kanan beliau.

Ketika orang-orang itu melihat itu, mereka berkata dengan angkuh dan sombong, "Sekarang engkau perintahkan agar separuh-nya datang kepadamu dan separuhnya lagi tinggal [di tempatnyal". Beliau memerintah-kan itu, lalu yang separuh datang kepadanya dengan sangat mengagumkan dan dengan ge-muruh suara yang lebih kuat. Hampir saja po-hon itu menyelimuti Rasulullah Saw Kemudi-an mereka berkata dengan kufur dan congkak, "Suruhlah yang separuh itu kembali bersatu dengan separuh yang lainnya seperti sedia kala". Lalu beliau memerin-tahkannya dan pohon itu pun kembali. Lalu aku berkata, "Ti-ada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku yang pertama kali beriman kepadamu, ya Rasu-lullah, dan yang pertama kali mengakui bahwa pohon itu telah melakukan apa yang telah dilakukannya dengan perintah Allah Yang Mahamulia, sebagai bukti atas kenabianmu dan sebagai penghormatan atas kalimatmu". Namun mereka semua berkata, "Tidak, dia adalah penyihir dan pembohong. Sihir yang menakjubkan mudah baginya. Tidak ada yang mempercayaimu dalam perkaramu ini kecuali orang seperti ini". (sambil menunjukku).

Sungguh aku termasuk orang-orang yang tidak mempedulikan ejekan orang yang mengejek dalam jalan Allah. Wajah mereka adalah wajah orang-orang benar dan ucapan mereka adalah ucapan orang-orang yang bijak. Mereka penghidup malam dan mercu suar si-ang. Mereka berpegang teguh pada tali al-Qur-an dan menghidupkan sunnah-sunnah Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak sombong dan tidak angkuh. Mereka tidak berbuat keja-hatan dan kerusakan. Hati mereka di surga sedang tubuh mereka sibuk beramal". (Nahj al-Balaghah, khutbah al-Qâsi’ah).[]
About The Author
Bie, that's my name. Im just an ordinary blogger.Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis. Ne malorum ceteros feugait quo, ius ea liber offendit placerat, est habemus aliquyam legendos id. Eam no corpora maluisset definitiones.
Share This
Subscribe Here

0 komentar:

Posting Komentar

1 2 3 4 5 6 7 6 7 8 9 10 11 12 13 14
http://www.meebo.com/rooms






Cari Blog Ini

translate

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch

MASUK KE FORUM


user name

password


lupa password?klik disini

Pengunjung


!!PERINGATAN!!

MAAF,Blog ini tidak mendukung bagi anda yang memakai browser Opera dan layar resolusi kurang dari 1000px! mohon maaf atas ketidak nyamanan anda

Ads Banner

Site Info

Counter Powered by  RedCounter PageRank Checker My Ping in TotalPing.com

Dakwah

Mars IPM

Pelajar muhammadiyah
Tetap teguh bersatu
Dalam menuntut ilmu
dalam sekolah kita
menjadi sejahtera
untuk selama-lamanya

reff:
hiduplah ipm kita
hiduplah ipm kita
hiduplah ipm kita
untuk slama-lamanya
Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Download Gratis

Followers

USER ONLINE

DAKWAH AL-ISLAM ONLINE Copyright © 2009 DarkfolioZ is Designed by Bie Blogger Template for Ipietoon